BRI Lanjutkan Buyback Saham Rp1 Triliun

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • BRI melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback) tahap II senilai Rp1 triliun mulai Oktober 2026 hingga Januari 2027.
  • Bank ini percaya diri dengan kinerja keuangan solid: laba bersih Rp31,2 triliun di kuartal II 2026 dan aset tumbuh 11,7% tahunan.
  • Posisi permodalan yang kuat dengan rasio CAR 21,5% memberi ruang BRI untuk terus tumbuh dan memberikan hasil optimal kepada pemegang saham.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjalankan strategi pembelian kembali sahamnya sendiri—yang disebut buyback—untuk memberikan nilai tambah kepada para pemilik saham. Langkah ini mencerminkan keyakinan BRI bahwa bisnis banknya memiliki fondasi yang kuat dan prospek pertumbuhan yang baik di masa depan.

Program buyback BRI dilakukan secara bertahap. Pada Maret 2025, para pemegang saham menyetujui rencana pembelian kembali dengan nilai maksimal Rp3 triliun. Lalu pada Juni 2026, BRI memulai tahap pertama dengan dana Rp500 miliar yang berjalan dari 12 Juni hingga 11 September 2026. Kini, BRI melanjutkan dengan tahap kedua yang jauh lebih besar—Rp1 triliun—dijadwalkan mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.

Menurut Dhanny, Corporate Secretary BRI, buyback yang dilakukan secara bertahap adalah bagian dari rencana Perseroan untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham sambil tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan. “Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Dhanny juga menekankan bahwa keputusan ini mempertimbangkan situasi pasar global yang penuh ketidakpastian, termasuk risiko ekonomi, ketegangan geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan Indonesia yang terpengaruh pergerakan harga komoditas dan aliran modal asing.

Kinerja keuangan BRI hingga akhir kuartal II 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Bank ini mencatat laba bersih sebesar Rp31,2 triliun, dengan total aset tumbuh 11,7% menjadi Rp2.352 triliun. Dana masyarakat yang dititipkan di bank (dana pihak ketiga atau DPK) meningkat 6,7% menjadi Rp1.581 triliun, sementara kredit dan pembiayaan yang disalurkan tumbuh 16,2% mencapai Rp1.646 triliun.

Posisi permodalan BRI juga sangat kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 21,5%, jauh di atas standar minimum yang ditetapkan regulator. Sementara itu, rasio pinjaman terhadap dana yang terhimpun (LDR) berada pada 90,8%, menunjukkan bank masih memiliki ruang untuk menyalurkan lebih banyak kredit tanpa mengorbankan likuiditas. Kondisi ini memberikan BRI kelonggaran untuk terus menjalankan fungsi meminjamkan uang dan menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat.

Dhanny menutup dengan optimisme bahwa BRI akan fokus memperkuat kinerja dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan. “Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang.”

Strategi buyback ini adalah cara bank menunjukkan kepercayaan diri kepada investor bahwa prospek bisnis BRI cukup cerah dan menguntungkan untuk masa depan.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top