Indonesia Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri

Foto: Republika

Ringkasan 30 Detik
  • Pemerintah memotong 31 juta kaki kubik gas pipa per hari ke Singapura dari total 409,5 juta untuk kebutuhan domestik.
  • Menteri ESDM Bahlil menegaskan pengurangan ini masih sesuai batas minimum kontrak dan tidak melanggar perjanjian.
  • Gas diperlukan untuk pembangkit listrik dan kebutuhan industri nasional sebelum dialokasikan untuk ekspor.

Pemerintah Indonesia mengambil langkah mengurangi pengiriman gas bumi ke Singapura untuk mengamankan pasokan energi dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kebijakan ini adalah prioritas pemerintah yang menyeimbangkan kebutuhan domestik dengan komitmen ekspor internasional.

Pengurangan pasokan gas pipa mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dari total ekspor 409,5 MMSCFD ke Singapura. Gas tersebut bersumber dari Laut Natuna dan Sumatera. Meski ada pengurangan, Bahlil menekankan bahwa pemerintah masih berpegang pada standar kontrak yang telah disepakati dengan pembeli, dan pengurangan ini belum melampaui batas minimum yang ditetapkan dalam perjanjian.

“Nah, sekarang ini kan yang kita lakukan pemotongan sebagian itu kan adalah 31 MM dari total 409 MM dari kontrak yang ada. Dengan yang ada itu, kita belum melanggar kontrak karena ada batas minimum, kan? Batas minimum itu belum kita lampaui. Jadi nggak ada masalah, ya,” ujar Bahlil usai rapat terbatas dengan Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Selain gas pipa, Indonesia juga mengirimkan gas alam cair (LNG) dalam bentuk 148 kargo per periode tertentu, setara dengan 1.480 juta kaki kubik. Menurut Bahlil, sebagian gas cair ini kemungkinan diperdagangkan ulang oleh Singapura ke negara-negara lain, meskipun sebagian juga digunakan untuk kebutuhan lokal Singapura sendiri.

Pemerintah melakukan penyesuaian pasokan karena dua alasan utama. Pertama, ada pemeliharaan berkala pada fasilitas produksi gas. Kedua, meningkatnya permintaan energi dari sektor domestik yang terus berkembang, khususnya dari pembangkit listrik dan industri. Gas menjadi bahan bakar penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan memastikan ketersediaan listrik yang stabil bagi masyarakat luas.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan kebutuhan energi nasional untuk menentukan kebijakan ekspor gas di masa depan. Tidak tertutup kemungkinan ada penyesuaian lebih lanjut pada pengiriman LNG atau gas pipa, tergantung kondisi kebutuhan dalam negeri. Pendekatan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara memenuhi kepentingan nasional dan menghormati komitmen perdagangan internasional yang sudah ditandatangani dengan mitra dagang seperti Singapura.

Sumber: Republika

Scroll to Top