Foto: Antara News
- Pemerintah memprioritaskan pemadaman karhutla di area sekitar Bandara Palangka Raya agar penerbangan tetap bisa beroperasi.
- Sebanyak 175 regu gabungan dari berbagai instansi diturunkan dan dibagi ke 36 kelompok kerja berdasarkan titik sumber air.
- Hujan alami baru diperkirakan turun akhir November, sehingga upaya pemadaman manual di lapangan harus terus diperkuat.
Pemerintah menetapkan kawasan sekitar Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sebagai salah satu area prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil agar operasional penerbangan tidak terganggu oleh asap tebal.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq langsung turun ke lapangan memimpin apel tim gabungan di Jalan Talawang Raya, lokasi yang berada dekat kawasan bandara. “Kita optimalkan penanganan karhutla di ring satu atau di daerah yang berbatasan atau berdekatan dengan bandara. Kita bersyukur penerbangan sudah mulai bisa dijalankan,” kata Hanif di Palangka Raya, Jumat.
Hanif menyebut ada 175 regu yang terlibat dalam pemadaman di Palangka Raya. “Untuk di Palangka Raya ada 175 regu yang terlibat. Semuanya dikoordinasikan dengan baik oleh pemerintah provinsi dengan dukungan lainnya,” jelasnya. Regu-regu itu berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga kelompok pemadam kebakaran setempat.
Agar kerja lebih efektif, tim di lapangan dibagi menjadi 36 kelompok kerja yang masing-masing bertanggung jawab di titik-titik sumber air yang tersedia. Penanganan karhutla tidak hanya soal memadamkan api, tetapi juga membasahi dan mendinginkan lahan gambut agar bara tidak menyala kembali.
Tantangan besar masih datang dari cuaca. Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan pola normal baru diperkirakan tiba pada akhir November. Hujan yang turun saat ini merupakan hasil operasi modifikasi cuaca — yaitu teknik menyemai awan dengan bahan tertentu agar hujan lebih cepat terbentuk — namun kandungan uap air di udara masih terbatas sehingga hasilnya belum maksimal.
“Karena itu, kita tetap harus memperkuat tenaga lapangan. Semua daya yang kita miliki harus dikerahkan untuk menuntaskan penanganan ini,” tegas Hanif.
Ditulis ulang dari: Antara News

