Mendagri Usul Tiga Subsidi Strategis Jelang Natal dan Tahun Baru

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Mendagri Tito Karnavian mengusulkan subsidi listrik, BBM, dan angkutan udara untuk mengendalikan inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru.
  • Subsidi ini diperlukan karena tingginya permintaan barang dan jasa di Desember serta mobilitas masyarakat yang meningkat.
  • Pemerintah juga diminta memperkuat bantuan sosial dan melanjutkan operasi pasar melalui Bapanas dan Bulog untuk stabilitas harga.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengajukan beberapa langkah untuk menjaga harga tetap stabil menjelang Natal dan Tahun Baru. Usulannya ini disampaikan setelah memimpin rapat koordinasi soal pangan bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada Senin (26/10/2026) di Jakarta.

Usulnya mencakup tiga jenis subsidi yang dianggap strategis. Pertama, Tito meminta pemerintah memberikan subsidi listrik, khususnya untuk paket 1.200 watt. Dia menyebut kebijakan ini pernah berhasil mendorong penurunan harga secara keseluruhan. “Di antaranya adalah mungkin subsidi listrik, ya, 1.200 watt. Itu pernah kita lakukan dan itu langsung deflasi,” katanya. Deflasi adalah kondisi dimana harga-harga secara umum turun, kebalikan dari inflasi yang biasanya terjadi.

Kedua, Tito mengusulkan agar pemerintah menambah stok Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah disubsidi. Tujuannya untuk memastikan energi tetap tersedia melimpah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat pada periode libur. “Kemudian subsidi lain adalah subsidi mungkin BBM, yang subsidi BBM-nya supply-nya produksinya mungkin ditambah,” ujarnya.

Ketiga, dia meminta subsidi untuk tiket pesawat karena tarif penerbangan juga berkontribusi pada lonjakan harga saat banyak orang bepergian. Tito juga meminta Kementerian Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk berbicara dengan maskapai penerbangan agar tidak menarik keuntungan maksimal. “Keuntungan kan tetap ada, tapi jangan ngambil keuntungan maksimal supaya tidak berpengaruh kepada inflasi,” kata Tito.

Selain ketiga subsidi itu, pemerintah juga diminta memperkuat daya beli masyarakat melalui bantuan sosial dalam bentuk uang tunai maupun barang seperti pangan. Pemerintah daerah juga didorong menggunakan anggaran mereka untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Pemerintah pusat akan terus melakukan operasi pasar melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga barang-barang kebutuhan.

Alasan di balik usulan ini adalah karena Desember merupakan bulan dengan aktivitas ekonomi yang sangat ramai. Liburan Natal dan Tahun Baru menyebabkan jutaan orang melakukan perjalanan melalui darat, laut, dan udara, sehingga permintaan barang dan jasa melonjak tajam dan mendorong kenaikan harga. Tito mencemaskan inflasi tahunan bisa naik di atas target pemerintah yang ditetapkan maksimal 3,5%.

Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,28%, masih dalam rentang target pemerintah antara 1,5% hingga 3,5%. Namun, inflasi bulanan dari Agustus ke September naik 0,30%, terutama karena naiknya harga cabai rawit dan cabai merah akibat produksi berkurang di beberapa daerah terkena kekeringan. Sementara harga beras secara umum masih stabil, meski beberapa daerah mengalami harga di atas acuan pemerintah, sehingga Bulog telah melakukan intervensi di 134 daerah untuk menjaga keseimbangan.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top