Foto: Liputan6
- Rupiah dibuka menguat tipis ke level 17.955 per dolar AS pada Jumat pagi.
- Analis memperkirakan rupiah akan melemah ke kisaran 17.950–18.050 karena lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran.
- Perubahan susunan kabinet, khususnya di sektor energi dan komoditas, turut memengaruhi sentimen pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan Jumat (2/10/2026) dengan catatan positif. Rupiah naik 11 poin atau sekitar 0,06% ke posisi 17.955 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di angka 17.966 per dolar AS.
Meski demikian, penguatan ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperingatkan bahwa rupiah berpotensi berbalik melemah menjelang akhir pekan. “Rupiah hari ini diperkirakan melemah pada kisaran 17.950-18.050 dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak, yaitu meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” kata Rully Nova.
Konflik antara AS dan Iran menjadi sorotan utama pelaku pasar saat ini. Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia — bergantung pada kesediaan AS memberikan jaminan konkret untuk mengakhiri perang, mencairkan aset Iran yang dibekukan, mencabut blokade, serta mengakhiri pembatasan ekspor minyak Iran.
Di sisi lain, AS justru memperketat tekanan dengan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran. Sanksi itu menyasar dua produsen mobil terbesar Iran, yaitu Iran Khodro dan SAIPA, beserta anak perusahaan mereka. Selain itu, perusahaan kereta api milik negara Iran, Islamic Republic of Iran Railway Company, dan dua perusahaan kereta api lainnya juga masuk daftar sanksi. Sektor otomotif dan perkeretaapian Iran secara keseluruhan kini masuk daftar sanksi sektoral, yang artinya AS bisa menargetkan siapa saja yang berbisnis di dua sektor tersebut.
Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia naik. Kenaikan harga minyak biasanya berdampak negatif bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor energi, karena tagihan impor mereka membengkak dan menekan nilai tukar mata uang lokal.
Selain faktor global, ada pula sentimen dari dalam negeri yang ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Rully menyebut perubahan susunan kabinet pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan energi dan komoditas, turut menjadi pertimbangan pelaku pasar. “Perubahan dalam kabinet pemerintah, terutama terkait dengan pengelolaan energi dan komoditas, secara signifikan mempengaruhi neraca perdagangan,” ujar dia.
Perubahan yang dimaksud merujuk pada pelantikan Bahlil Lahadalia oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus merangkap jabatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Kementerian baru ini akan berperan mengkoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Investasi dan Hilirisasi, untuk mencapai target-target di sektor energi dan komoditas.
Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah bisa berdampak pada harga barang-barang impor yang menjadi lebih mahal, mulai dari elektronik hingga bahan baku industri. Pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS juga akan menanggung beban lebih berat jika rupiah terus tertekan. Pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran sebagai faktor penentu arah nilai tukar dalam waktu dekat.
Sumber: Liputan6

