Trump Tak Mau Bicara soal Drone Iran di Pangkalan Inggris

Foto: Antara News

Ringkasan 30 Detik
  • Trump menolak menjawab pertanyaan soal kemungkinan Iran mengirim drone ke pangkalan militer Inggris.
  • Beberapa orang, termasuk warga berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran, sudah ditangkap terkait kasus ini.
  • Pangkalan RAF Fairford adalah satu-satunya tempat di Eropa yang bisa dipakai pesawat pengebom strategis Amerika.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih tidak menjawab langsung pertanyaan wartawan soal apakah Iran telah mengirimkan drone atau pesawat nirawak ke salah satu pangkalan militer Inggris. Ia hanya memberi peringatan keras tanpa mengkonfirmasi atau membantah dugaan tersebut.

“Saya tidak bisa memberitahu hal itu, tetapi jika mereka melakukannya, maka mereka akan menanggung konsekuensi yang sangat berat,” kata Trump kepada para wartawan.

Pernyataan singkat namun tajam itu muncul di tengah serangkaian penangkapan yang terjadi di sekitar Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris, atau RAF Fairford, dalam beberapa pekan terakhir. Pangkalan ini bukan pangkalan sembarangan — ia merupakan satu-satunya lokasi di seluruh Eropa yang menjadi tempat pendaratan pesawat pengebom strategis milik Amerika Serikat.

Kronologi kejadian dimulai pada Minggu, 27 September, ketika lima warga negara Inggris ditangkap di dekat area pangkalan tersebut. Mereka diduga melanggar Undang-Undang Bahan Peledak yang berlaku di Inggris. Sehari setelahnya, kelimanya dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.

Kemudian pada Kamis, 1 Oktober, seorang pria dengan kewarganegaraan ganda Inggris-Iran turut ditangkap dalam kasus yang sama. Ia pun dibebaskan dengan jaminan setelah menjalani pemeriksaan. Keterlibatan warga berkewarganegaraan Iran ini yang kemudian memunculkan kecurigaan soal kemungkinan adanya operasi yang terkait dengan pemerintah Iran.

RAF Fairford sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pangkalan operasi militer penting. Fasilitas ini pernah digunakan sebagai titik keberangkatan serangan udara ke Irak maupun ke bekas wilayah Yugoslavia pada konflik-konflik sebelumnya. Lokasinya di Gloucestershire, Inggris bagian barat, menjadikannya strategis untuk menjangkau berbagai wilayah di Eropa dan Timur Tengah.

Pada Maret lalu, pemerintah Inggris secara resmi mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan itu untuk operasi militer yang ditujukan ke Iran. Namun, ada syarat yang ditetapkan: pesawat-pesawat AS hanya boleh menggunakannya untuk misi yang bersifat pertahanan, bukan serangan ofensif.

Keputusan itu sendiri sudah memicu perdebatan di dalam negeri Inggris. Pada Juli, aksi protes digelar di luar gerbang pangkalan oleh warga yang menentang keterlibatan Inggris dalam operasi militer Amerika terhadap Iran. Para pengunjuk rasa menilai izin yang diberikan pemerintah Inggris bisa menyeret negara itu ke dalam konflik yang lebih besar.

Kini, dengan adanya dugaan pengiriman drone dan penangkapan sejumlah orang di sekitar pangkalan, ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat kembali meningkat. Sebelumnya, Arab Saudi juga dilaporkan pernah mencegat dan menghancurkan drone asal Iran yang menargetkan fasilitas minyak di wilayahnya, menunjukkan bahwa penggunaan drone sebagai alat tekanan atau provokasi bukan hal baru bagi Iran.

Sejauh ini, baik pemerintah Inggris maupun Amerika belum merilis pernyataan resmi yang secara eksplisit menyebut Iran sebagai dalang di balik insiden di RAF Fairford. Investigasi masih berlangsung.

Sumber: Antara News

Scroll to Top