Tanam Padi dalam Galon, Solusi Ketahanan Pangan Warga Kota

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Posyantek Kreya Loka RPTRA Belimbing memulai program tanam padi dalam galon di permukiman Pasar Minggu.
  • Panen perdana Maret 2026 menghasilkan 70 kilogram gabah dari 350 galon padi.
  • Beras organik premium dialokasikan untuk konsumsi komunitas dan membantu anak-anak yang mengalami stunting.

Warga Pasar Minggu, Jakarta, menemukan cara kreatif untuk menjaga ketahanan pangan dengan menanam padi langsung di galon-galon plastik. Program inovatif ini dilaksanakan melalui Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna) Kreya Loka RPTRA Belimbing, sebuah pusat layanan teknologi yang dirancang untuk membantu komunitas lokal.

Ketahanan pangan adalah masalah penting bagi masyarakat perkotaan yang sering kali tidak memiliki lahan cukup untuk bercocok tanam. Melalui metode bertanam dalam galon, warga bisa menghasilkan padi sendiri meskipun tinggal di lingkungan permukiman yang padat. Teknologi ini memungkinkan orang-orang tanpa lahan luas tetap bisa berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan keluarga dan komunitas mereka.

Program yang digagas Jaenab menunjukkan hasil nyata dalam panen pertamanya. Pada Maret 2026, dari 350 galon yang ditanam, warga berhasil memanen sekitar 70 kilogram gabah (padi yang masih dalam cangkang). Angka ini membuktikan bahwa metode bertanam dalam galon bukan hanya sekadar eksperimen, melainkan cara yang viable untuk menghasilkan pangan di area terbatas.

Suparno dan tim di Posyantek secara rutin merawat tanaman padi ini, termasuk menyiram dan menangani berbagai tantangan seperti serangan hama. Perawatan intensif ini menunjukkan komitmen komunitas terhadap kesuksesan program. Mereka memahami bahwa hasil panen tidak hanya tentang jumlah, tetapi juga kualitas produk yang dihasilkan.

Apa yang membuat program ini semakin bermakna adalah manfaat sosialnya. Hasil panen padi dalam galon tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi keluarga-keluarga peserta program, tetapi juga menjadi sarana berbagi dengan komunitas yang lebih luas. Sebagian dari beras organik premium yang dihasilkan dialokasikan khusus untuk membantu anak-anak yang mengalami stunting (gagal tumbuh) di sekitar wilayah Pasar Minggu.

Stunting adalah permasalahan gizi serius yang mempengaruhi perkembangan anak-anak, dan dengan memberikan beras berkualitas tinggi, program ini berkontribusi langsung pada peningkatan status gizi anak-anak rentan. Ini menunjukkan bagaimana ketahanan pangan tidak hanya tentang ketersediaan makanan, tetapi juga tentang akses yang adil bagi semua lapisan masyarakat, terutama yang paling membutuhkan.

Inisiatif warga Pasar Minggu ini menjadi contoh konkret bagaimana teknologi sederhana dan kerja sama komunitas dapat mengatasi persoalan pangan tanpa memerlukan investasi besar atau teknologi canggih. Program seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi permukiman perkotaan lainnya di Indonesia untuk memulai gerakan serupa dan memperkuat ketahanan pangan lokal.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top