Foto: Liputan6
- Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri di tengah krisis ekonomi parah yang melanda negara itu.
- Nilai tukar rial Iran melemah lebih dari 10 persen dalam sebulan akibat blokade laut Amerika Serikat yang menghambat ekspor minyak.
- Inflasi Iran mencapai 85 persen dan upah minimum kini hanya setara sekitar Rp 1,1 juta per bulan.
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menerima pengunduran diri tersebut. Paknejad menyebut alasan pribadi sebagai penyebab kepergiannya, meski langkah ini terjadi di tengah situasi ekonomi Iran yang sedang gawat.
Pengunduran diri ini menjadi sorotan luas karena bersamaan dengan munculnya tuduhan serius. Media Iran, Farhikhtegan, melaporkan bahwa sebuah lembaga perantara atau yang disebut ‘trust’ yang dibentuk di bawah pengawasan Paknejad berutang hampir US$ 2 miliar — sekitar Rp 35,7 triliun — kepada National Iranian Oil Company (NIOC), perusahaan minyak negara Iran. Selain itu, tiga individu yang mendapat kontrak minyak juga masing-masing dituding berutang ratusan juta dolar kepada NIOC.
Juru bicara komisi energi parlemen Iran, Reza Sepahvand, mengumumkan bahwa penyelidikan atas dugaan ini sudah dimulai. Laporan soal kemungkinan salah kelola hingga korupsi ini dinilai semakin menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah, di saat warga Iran sendiri sedang menanggung tekanan ekonomi yang sangat berat.
Iran saat ini menghadapi salah satu krisis ekonomi terparahnya sejak Revolusi 1979. Nilai tukar mata uang rial melemah lebih dari 10 persen hanya dalam sebulan. Pekan ini, dolar diperdagangkan di angka 269.000 toman — rekor tertinggi sepanjang sejarah, naik 12 persen sejak awal September lalu.
Penyebab utama pelemahan ini adalah blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat, yang membuat Iran kesulitan menjual minyak ke luar negeri. Minyak adalah sumber pemasukan utama pemerintah Iran, sehingga ketika ekspor terhambat, pendapatan negara dalam bentuk valuta asing pun ikut anjlok. Perekonomian Iran bahkan tercatat menyusut sebesar 10 persen hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari masyarakat. Inflasi umum mencapai 85 persen, sementara inflasi khusus untuk bahan pangan bahkan menyentuh 130 persen. Upah minimum bulanan yang besarnya 166 juta rial kini hanya bernilai sekitar US$ 66 atau sekitar Rp 1,1 juta — jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Akibatnya, semakin banyak pekerja kelas menengah yang memilih berhenti bekerja. Guru dan perawat termasuk kelompok yang banyak dilaporkan mengundurkan diri karena gaji mereka tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga.
Pemerintah berupaya meredam situasi. Wali Kota Teheran mengumumkan pembekuan harga 12 kebutuhan pokok — termasuk gula, beras, minyak goreng, dan deterjen — selama enam bulan ke depan. Sejumlah menteri juga menyebut kemungkinan adanya kenaikan gaji kedua bagi pegawai sektor publik.
Pertemuan darurat pemerintah yang digelar sepanjang akhir pekan untuk mencari jalan keluar dari krisis ini belum menghasilkan langkah konkret yang berarti. Di sisi lain, Iran dan Amerika Serikat juga masih buntu dalam perundingan nuklir, setelah proposal untuk mempercepat proses negosiasi ditolak oleh Presiden Donald Trump pekan lalu. Para diplomat Iran menyatakan tidak berencana memberikan konsesi baru dalam waktu dekat.
Sumber: Liputan6

