Foto: Republika
- Mentan Amran meraih skor kepuasan publik 86,2 persen tertinggi di antara seluruh menteri menurut empat lembaga survei berbeda.
- Program swasembada pangan dinilai paling berhasil dengan skor 8,4 dari 10, didukung data resmi yang menunjukkan harga gabah terus stabil di atas Rp 6.500 per kilogram.
- Petani dan tokoh pemerintah langsung memberikan apresiasi atas pencapaian swasembada delapan komoditas yang meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.
Menjelang dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperoleh pengakuan dari empat lembaga riset independen dengan metode pengukuran yang berbeda-beda. Dalam semua penilaian tersebut, Amran selalu masuk dalam dua besar, bahkan sering menempati posisi teratas. Masyarakat awam juga menganggap program swasembada pangan (tujuan negara mencukupi kebutuhan pangan sendiri tanpa impor besar-besaran) sebagai program pemerintah yang paling berhasil dan berdampak nyata.
Lembaga riset Piramida Research and Consulting mencatat tingkat kepuasan masyarakat terhadap Amran mencapai 86,2 persen, angka tertinggi dibandingkan menteri lainnya, diikuti Abdul Mu’ti 85,4 persen dan Nasaruddin Umar 84,3 persen. Survei tatap muka ini dilaksanakan 20 September hingga 5 Oktober 2026 melibatkan 1.200 responden dari 34 provinsi. Sementara IndexPolitica Indonesia melalui penilaian kinerja pemerintahan September 2026 menempatkan Amran di urutan pertama dari 10 menteri terbaik menggunakan metode analisis keputusan multi-kriteria. Arawicaksa Institute juga memberi Amran skor 8,0 dari 10 dalam surveinya 3 hingga 8 Oktober 2026, hanya terpisah 0,1 poin dari Abdul Mu’ti.
Pengakuan paling penting berasal dari lembaga yang dikenal kritis terhadap pemerintah. CELIOS, lembaga yang sering mengoreksi kebijakan, merilis penilaian dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 12 Oktober 2026 dan memberi Amran skor tertinggi dari 994 responden, melampaui Agus Harimurti Yudhoyono yang meraih 127. Ketika bahkan lembaga yang biasa mengkritik pemerintah menempatkan Amran di posisi teratas, hal itu menunjukkan penilaian objektif bukan sekadar pujian yang berpihak.
Capaian swasembada pangan tercermin dalam data konkret. Survei Arawicaksa Institute menyebut swasembada pangan sebagai program paling berhasil dengan skor 8,4 dari 10, tertinggi di antara seluruh program prioritas pemerintah. Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (perbandingan harga barang yang dijual petani dengan barang yang dibeli petani) September 2026 sebesar 131,11, angka tertinggi dalam sejarah pencatatan. Harga gabah kering panen dari Januari hingga Agustus 2026 bertahan di atas standar harga pembelian pemerintah Rp 6.500 per kilogram, berkisar Rp 6.700 hingga Rp 7.600.
Dampak langsung dirasakan petani di lapangan. Sudarso, petani di Madiun yang mengelola dua hektare lahan, mengatakan harga Rp 6.500 per kilogram memberikan “uang lebihan setelah dipotong biaya produksi”. Helmantina, petani di Pasaman Sumatra Barat, mengaku senang bermitra dengan Bulog karena hasil panennya memiliki “pasar yang jelas”. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Indramayu H Tatang mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo dan Kementerian Pertanian atas perhatian terhadap harga gabah. Ketua Umum Adkasi Siswanto menyatakan petani memperoleh keuntungan layak sementara harga beras tetap terkendali.
Apresiasi juga datang dari tokoh pemerintah. Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto memberikan apresiasi atas keberhasilan swasembada delapan komoditas dalam rapat kerja September 2026. Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR Agustus 2026 memberi apresiasi kepada Amran atas capaian swasembada yang diakui secara internasional. Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo menyebut swasembada beras tercapai tiga tahun lebih cepat dari target 2029, sementara kenaikan harga gabah dari Rp 4.000 menjadi Rp 6.500 dan penurunan biaya pupuk 20 persen membawa taraf hidup petani ke level tertinggi sejak 1980-an.
Sumber: Republika

