Foto: Antara News
- Menlu Sugiono menyampaikan pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York.
- Indonesia menyoroti keberhasilan ASEAN menjaga persatuan meski anggotanya berbeda latar belakang politik dan sejarah.
- Sugiono juga menegaskan ketahanan nasional Indonesia berkontribusi langsung pada stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono tampil di panggung internasional paling bergengsi, yakni Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pernyataan resmi Indonesia di hadapan para pemimpin dan perwakilan negara-negara dunia.
Salah satu poin utama yang diangkat Sugiono adalah keberhasilan ASEAN — blok negara-negara Asia Tenggara — dalam merekatkan hubungan antarbangsa di kawasan yang beragam ini. ASEAN sendiri berdiri sejak 1967, artinya organisasi ini sudah berusia lebih dari enam dekade.
“Selama enam dasawarsa lebih, ASEAN mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan terus mencari jalan bersama. Inilah kekuatan dari persatuan dan Sentralitas ASEAN,” kata Sugiono dalam pernyataannya.
ASEAN terdiri dari sepuluh negara anggota dengan latar belakang yang sangat beragam — mulai dari sistem pemerintahan, sejarah, tingkat ekonomi, hingga kepentingan nasional masing-masing. Meski begitu, kawasan ini berhasil tumbuh menjadi ekonomi terbesar kelima di dunia. Kekuatan itu ditopang oleh populasi usia produktif terbesar di dunia serta pertumbuhan ekonomi digital yang pesat.
Sugiono mengakui bahwa menyatukan seluruh negara anggota dalam satu kesepakatan bukan hal yang mudah. Namun, komitmen untuk terus berdialog menjadi nilai utama yang dijaga bersama.
“Kami tak selamanya satu kata, tetapi kami telah membuat pilihan yang jelas, yaitu untuk selalu bersama. Kami juga memilih terus berdialog meski kesepakatan tak mudah dicapai,” ujar Menlu RI Sugiono.
Prinsip “Sentralitas ASEAN” yang disebutkan Sugiono mengacu pada posisi ASEAN sebagai poros utama dalam berbagai forum dan kerja sama regional. Prinsip ini memungkinkan ASEAN tetap terlibat dengan semua mitra strategis, termasuk kekuatan-kekuatan besar dunia, tanpa harus memihak salah satu pihak di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam.
Namun Sugiono juga mengingatkan bahwa ASEAN tidak boleh berpuas diri. Organisasi ini harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dan benar-benar bermanfaat.
“ASEAN harus terus berevolusi supaya tetap sesuai dengan tujuannya dan bermanfaat bagi rakyat dan kawasan yang lebih luas lagi,” kata Menlu RI.
Selain berbicara soal ASEAN, Sugiono juga menekankan peran Indonesia sendiri dalam menjaga stabilitas kawasan. Menurutnya, kontribusi Indonesia bermula dari keberhasilan membangun ketahanan di dalam negeri terlebih dahulu — mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Ketahanan nasional kami mendukung dan melengkapi kawasan yang stabil, damai, dan terprediksi,” tutur Sugiono.
Sugiono hadir di New York sejak Senin (21/9) sebagai kepala delegasi Indonesia. Sebelum menyampaikan pernyataan nasional, ia terlebih dahulu menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi dan pertemuan bilateral dengan sejumlah negara mitra.
Ditulis ulang dari: Antara News

