Kaya di Usia 65? Kevin O’Leary Rekomendasikan Investasi 15% Gaji Sejak Dini

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Kevin O’Leary menyarankan mengambil 15% dari seluruh penghasilan untuk diinvestasikan di pasar keuangan sejak usia muda.
  • Jika mulai investasi di usia 25 tahun dengan imbal hasil 4% per tahun, seseorang bisa jadi jutawan pada usia 65 tahun.
  • Kunci utama adalah konsistensi berinvestasi dan memulai sedini mungkin agar kekuatan bunga majemuk bekerja maksimal.

Investor terkenal Kevin O’Leary, yang dikenal dengan gaya berpakaian dan perhiasan mewah, ternyata memiliki nasihat investasi yang sangat praktis dan sederhana untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Menurut O’Leary, strategi yang dia ajarkan berulang kali kepada anak-anaknya adalah: “Jangan belanjakan, tabung, investasikan, biarkan ia tumbuh majemuk, itulah hadiah yang diberikan pasar kepada Anda.” Nasihat tersebut dia sampaikan melalui video di akun Instagram pribadinya.

Rumusnya sederhana: ambil 15% dari seluruh penghasilan, mulai dari gaji utama, pekerjaan sampingan, hingga uang pemberian keluarga. Uang tersebut kemudian diinvestasikan ke pasar keuangan dan dibiarkan berkembang secara majemuk seiring waktu berjalan. Meski terdengar mudah, O’Leary menyebut disiplin menjalankan aturan 15% ini bisa membuat seseorang menjadi miliuner pada usia 65 tahun, tanpa harus memiliki penghasilan sangat besar atau lahir dari keluarga kaya.

Untuk memahami bagaimana ini bekerja, mari lihat contoh konkret. Jika seseorang mulai menabung 15% dari penghasilan sejak usia 25 tahun dengan imbal hasil investasi rata-rata 4% per tahun, dia hanya perlu berpenghasilan sekitar 67.459 dolar AS (sekitar 1,2 miliar rupiah) per tahun untuk mencapai 1 juta dolar AS pada usia 65 tahun. Namun, jika baru memulai investasi pada usia 40 tahun, penghasilan tahunan yang dibutuhkan melonjak menjadi lebih dari dua kali lipat, yakni sekitar 155.086 dolar AS (sekitar 2,8 miliar rupiah) untuk target yang sama. Sebaliknya, jika berhasil mendapatkan imbal hasil lebih tinggi sebesar 8%, penghasilan yang dibutuhkan justru menurun menjadi sekitar 83.563 dolar AS (sekitar 1,5 miliar rupiah) per tahun.

Kunci sukses strategi ini adalah konsistensi. Seseorang harus terus menabung dan berinvestasi secara teratur, bahkan ketika pasar bergejolak atau berita finansial terasa mengkhawatirkan. Faktor penting lainnya adalah memulai sedini mungkin dan memperhatikan besarnya imbal hasil investasi dari waktu ke waktu. Semakin muda mulai berinvestasi, semakin lama uang memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui bunga majemuk.

Nasihat O’Leary ini sejalan dengan filosofi Warren Buffett, legenda investasi dunia. Dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway pada 2020, Buffett menyebutkan bahwa bagi kebanyakan orang, langkah terbaik adalah berinvestasi di reksa dana indeks S&P 500. Pendekatan ini memberikan eksposur ke 500 perusahaan terbesar di Amerika Serikat dari berbagai sektor industri sekaligus, dengan diversifikasi instan tanpa perlu manajemen aktif yang rumit.

Secara historis, indeks S&P 500 telah memberikan rata-rata imbal hasil tahunan sebesar 10,51% sejak 1957, meski kinerja masa lalu tidak bisa menjamin hasil yang sama di masa depan. Tantangan nyata adalah banyak orang kesulitan menerapkan strategi ini. Berdasarkan data Federal Reserve Bank of St. Louis, tingkat tabungan pribadi di Amerika Serikat hanya 4,1% per Agustus 2026, jauh di bawah angka 15% yang disarankan O’Leary. Namun pesan intinya tetap relevan: semakin dini dan konsisten seseorang berinvestasi, semakin besar peluang kekayaannya bertumbuh di masa depan.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top