Foto: Liputan6
- Henry Manampiring protes skenario awal film Filosofi Teras karena tidak ada adegan yang menjelaskan konsep teras.
- Penulis buku itu ingin penonton yang belum membaca bukunya tetap bisa memahami pesan filosofis film.
- Tim penulis naskah merespons dengan baik dan menambahkan adegan teras yang penting dan berisi filosofi.
Penulis buku best seller Filosofi Teras, Henry Manampiring, berbagi pengalamannya saat pertama kali membaca naskah awal film adaptasi bukunya. Dalam konferensi pers poster dan soundtrack film pada 27 Oktober 2026 di Jakarta, Henry mengungkapkan kekhawatirannya tentang sesuatu yang dirasa hilang dari skenario awal tersebut.
Henry menjelaskan bahwa ketika membaca draft pertama naskah, pertanyaan pertama yang terlintas di benaknya adalah tentang ketiadaan teras. Menurutnya, elemen ini sangat penting untuk memastikan semua penonton bisa memahami film, termasuk mereka yang tidak pernah membaca bukunya. “Iya, jadi waktu masih versi awal draft satu itu pas saya terima, saya baca, ya pertanyaan saya justru ‘terasnya di mana ya?’ Karena saya percaya film ini harus bisa dipahami dan dinikmati oleh bahkan mereka yang tidak baca buku saya. Kalau mereka yang membaca buku saya, dapat penjelasan di dalam bukunya, apa arti Filosofi Teras dan kenapa Teras. Nah, pas di naskah awal enggak ada,” ujar Henry.
Kekhawatiran Henry tidak hanya sekadar detail teknis. Dia membayangkan bagaimana reaksi penonton yang akan menonton film tanpa latar belakang pengetahuan tentang konsep teras. “Saya takutnya orang yang enggak baca bukunya, nonton filmnya, terus bingung. gitu. ‘Terasnya di mana ya?’ gitu,” kata Henry dengan kekhawatirannya yang jelas.
Sebagai solusi, Henry membawa kekhawatirannya ini kepada tim penulis naskah film. Hasilnya cukup memuaskan baginya karena tim penulis sangat responsif dan memahami concern yang disampaikan. “Jadi saya sampaikan kepada tim penulis dan ya senang sekali ya karena tim penulisnya sangat responsif dan mengerti concern saya. Jadi kayaknya harus ada adegan teras yang cukup penting gitu. Di mana di situ ada filosofinya, ada ajarannya. Dan saya pikir sih sutradara Affandi udah berhasil meng-capture itu ya,” jelas Henry dengan puas.
Di sisi lain, Haqi Achmad, salah satu penulis naskah film, juga berbagi cerita menarik di balik proses penulisan. Menurutnya, dirinya dan Widi Lestari (penulis naskah lainnya) berusaha menuangkan pengalaman pribadi mereka ke dalam cerita, namun hal ini juga menjadi tantangan tersendiri. “Fun fact-nya ini memang kami tuh jadi kayak berkaca karena sebenarnya ketika nulis film ini kami kan ada curhat ya, gitu. Kayak Nea adalah bagian dari aku dan Widi gitu. Dan memang kami berupaya untuk mencari cerita yang sangat dekat tapi juga enggak jatuhnya jadi proyek curhat kami. Jadi memang harus memisahkan antara kebutuhan cerita karakternya sama message dari Filosofi Teras itu sendiri,” ungkap Haqi.
Perjalanan adaptasi film Filosofi Teras menunjukkan bagaimana kolaborasi antara penulis buku, tim kreatif, dan produser bisa menghasilkan karya yang tetap setia pada esensi cerita sambil menciptakan pengalaman sinematik yang dapat dinikmati berbagai kalangan penonton.
Sumber: Liputan6

