Harga Minyak AS Anjlok 8% Sepekan Usai Pembicaraan AS-Iran

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Harga minyak mentah AS (WTI) turun 7,9% dalam sepekan setelah AS dan Iran bertemu di sela Sidang Umum PBB.
  • Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika AS memenuhi syarat dalam kesepakatan perdamaian.
  • Namun, kesepakatan itu belum pasti karena pertempuran soal hak transit di Selat Hormuz kembali pecah.

Harga minyak mentah Amerika Serikat mencatat penurunan cukup tajam sepanjang pekan ini. Pemicunya adalah pertemuan antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung di New York.

Berdasarkan data yang dikutip dari CNBC, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) — yakni patokan harga minyak mentah produksi Amerika — turun 2,3% ke angka US$ 92,41 per barel pada perdagangan penutup pekan. Secara keseluruhan dalam satu pekan, penurunannya mencapai 7,9%, angka yang terbilang besar dalam pasar komoditas energi.

Sementara itu, harga minyak Brent — yang biasa dipakai sebagai acuan harga minyak dunia secara global — melemah 2,1% ke level US$ 104,32 per barel pada hari yang sama. Namun secara mingguan, harga Brent tercatat relatif datar, artinya tidak banyak bergerak dibandingkan WTI.

Perbedaan pergerakan antara WTI dan Brent ini menarik untuk dicermati. WTI lebih mencerminkan kondisi pasar energi domestik Amerika, sedangkan Brent lebih dipengaruhi dinamika pasokan global, termasuk kawasan Timur Tengah.

Salah satu faktor kunci yang menggerakkan pasar adalah pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam pertemuan diplomatik tersebut, ia menyampaikan bahwa Teheran siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, asalkan Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat dari kesepakatan perdamaian sementara yang pernah dicapai pada Juni lalu.

Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit yang sangat strategis. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya. Ketika Selat Hormuz terganggu atau ditutup, harga minyak global bisa melonjak drastis karena pasokan terhambat. Sebaliknya, sinyal bahwa jalur itu akan dibuka kembali membuat pasar berharap pasokan minyak akan pulih, sehingga harga pun tertekan turun.

Namun, situasinya tidak semudah itu. Kesepakatan yang pernah dicapai pada Juni tersebut ternyata dengan cepat runtuh setelah pertempuran kembali meletus, kali ini terkait sengketa hak transit melalui Selat Hormuz. Artinya, ketegangan antara kedua negara belum benar-benar mereda meski ada sinyal dialog.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan apakah proposal terbaru dari Iran dapat benar-benar mengubah situasi di lapangan. Pasar energi tampaknya merespons harapan damai itu dengan cepat, tapi ketidakpastian masih membayangi.

Bagi konsumen biasa, pergerakan harga minyak dunia seperti ini bisa berpengaruh pada harga bahan bakar minyak (BBM) dan berbagai barang kebutuhan yang proses distribusinya bergantung pada bahan bakar. Penurunan harga minyak mentah umumnya menjadi kabar baik karena berpotensi menekan biaya energi secara keseluruhan, meski dampaknya tidak selalu langsung terasa di harga eceran.

Ditulis ulang dari: Liputan6

Scroll to Top