Foto: Liputan6
- Harga emas dunia berada di kisaran US$ 4.285 per ons pada akhir pekan ini, naik tipis 0,24%.
- Selama sepekan, harga emas turun lebih dari 1% akibat tekanan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga.
- Pasar memperkirakan peluang 70% kenaikan suku bunga AS pada Oktober dan 95% pada Desember 2026.
Harga emas dunia masih bergerak di bawah tekanan pada akhir pekan ini. Per Jumat, 25 September 2026, harga emas diperdagangkan di kisaran US$ 4.280 per ons troy — satuan berat standar untuk emas dan logam mulia lainnya di pasar internasional.
Memasuki Minggu, 27 September 2026, data dari tradingeconomics mencatat harga emas dunia sedikit membaik, naik 0,24% menjadi US$ 4.285 per ons. Meski ada kenaikan tipis, tren sepekan terakhir tetap menunjukkan pelemahan lebih dari 1%.
Apa yang membuat harga emas tertekan? Ada dua faktor utama. Pertama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang masih tinggi. Ketika imbal hasil obligasi naik, investor cenderung lebih memilih menyimpan uang di obligasi karena memberikan keuntungan yang lebih pasti dibanding emas yang tidak menghasilkan bunga. Kedua, harapan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve atau yang biasa disebut the Fed, akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool — alat yang digunakan para pelaku pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga AS — peluang kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 diperkirakan hampir 70%. Bahkan untuk Desember 2026, probabilitasnya mencapai 95%. Angka ini muncul karena inflasi di AS masih tinggi dan data ekonomi negara tersebut terus menunjukkan ketahanan yang kuat, sehingga the Fed dinilai masih punya ruang untuk memperketat kebijakan moneternya.
Suku bunga yang lebih tinggi membuat dolar AS cenderung menguat. Karena emas diperdagangkan dalam dolar di pasar global, penguatan dolar biasanya membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain, yang pada akhirnya menekan permintaan dan harga emas itu sendiri.
Bagi masyarakat Indonesia yang ingin membeli atau menjual emas perhiasan, pergerakan harga emas dunia ini secara langsung memengaruhi harga yang berlaku di toko-toko emas lokal, termasuk platform seperti Raja Emas dan Laku Emas. Harga perhiasan emas di dalam negeri umumnya mengikuti harga emas internasional, dengan penyesuaian kurs rupiah terhadap dolar AS dan biaya pembuatan perhiasan.
Perlu diketahui, harga emas perhiasan berbeda dengan harga emas batangan atau logam mulia seperti yang dijual Antam. Emas perhiasan biasanya memiliki kadar yang bervariasi — mulai dari 18 karat hingga 24 karat — dan harganya sudah mencakup ongkos pembuatan, sehingga cenderung lebih mahal per gramnya dibanding emas batangan dengan kadar yang sama.
Bagi yang berencana berinvestasi emas dalam jangka panjang, kondisi seperti ini — di mana harga sedikit terkoreksi — kadang dilihat sebagai peluang untuk membeli di harga yang lebih rendah. Namun tentu saja, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan tujuan masing-masing.
Ditulis ulang dari: Liputan6

