Foto: Liputan6
- Harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.332,34 per ons pada perdagangan Selasa waktu AS.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember naik dari 80% menjadi 90% menurut data CME FedWatch Tool.
- Emas sudah anjlok lebih dari 22% dari rekor tertingginya pada Januari 2026.
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa, 22 September waktu Amerika Serikat, atau Rabu pagi waktu Jakarta. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa — emas sebenarnya sudah tertekan cukup dalam, bahkan sudah turun lebih dari 22% dibandingkan rekor tertingginya yang tercatat pada Januari 2026.
Berdasarkan data dari Yahoo Finance, harga emas di pasar spot turun 0,3% ke angka US$ 4.332,34 per ons troi. Sementara harga emas berjangka Amerika Serikat juga ikut melemah 0,3%, menjadi US$ 4.370,40 per ons.
Apa yang membuat emas tertekan? Penyebab utamanya adalah ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve (the Fed), akan kembali menaikkan suku bunga. Ketika suku bunga naik, aset seperti emas menjadi kurang menarik karena tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil seperti obligasi atau deposito.
Data dari CME FedWatch Tool — alat yang digunakan pelaku pasar untuk memperkirakan kebijakan the Fed — menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga pada Desember sudah melonjak ke angka 90%, naik dari 80% pada seminggu sebelumnya. Ini artinya semakin banyak investor yang yakin the Fed belum akan berhenti mengetatkan kebijakannya.
Selain itu, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat turut menekan harga emas. Emas diperdagangkan dalam dolar, sehingga ketika dolar menguat, harga emas otomatis terasa lebih mahal bagi pembeli dari negara lain dan permintaan pun cenderung turun.
Perubahan sikap the Fed ini juga dipengaruhi oleh pernyataan hawkish — istilah untuk sikap kebijakan moneter yang cenderung ketat dan pro kenaikan suku bunga — dari Presiden Fed cabang St. Louis, Alberto Musalem. Pernyataan semacam ini biasanya dibaca pasar sebagai sinyal bahwa the Fed serius mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diharapkan.
Bagi investor yang selama ini mengandalkan emas sebagai aset “safe haven” atau pelindung nilai di tengah ketidakpastian, situasi ini cukup menantang. Daya tarik emas sebagai tempat perlindungan nilai tergerus ketika dolar kuat dan suku bunga tinggi memberikan alternatif investasi yang lebih menarik.
Bagi masyarakat Indonesia, pergerakan harga emas dunia ini juga relevan karena harga emas dalam negeri, termasuk produk emas Antam, umumnya mengikuti tren harga global dengan penyesuaian nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pelemahan harga emas dunia berpotensi memberi ruang koreksi pada harga emas lokal, meski besaran dampaknya juga bergantung pada pergerakan rupiah itu sendiri.
Pelaku pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari the Fed, terutama menjelang rapat kebijakan moneter yang dijadwalkan pada akhir tahun ini, untuk memastikan arah suku bunga ke depan.
Ditulis ulang dari: Liputan6

