Foto: Liputan6
- Afgan, Maxime Bouttier, dan Winky Wiryawan berkolaborasi dalam lagu berjudul ‘Aura’.
- Ketiganya mengaku proses pengerjaan lagu berjalan lancar karena satu visi dan tidak ada ego yang ditonjolkan.
- Winky bahkan membandingkan dengan kolaborasi lain yang mandek 8 bulan gara-gara ego tidak bisa dikompromikan.
Tiga nama dari dunia hiburan Indonesia, Afgan, Maxime Bouttier, dan Winky Wiryawan, baru saja merilis sebuah lagu berjudul ‘Aura’. Yang menarik, kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan tiga musisi — ketiganya ternyata punya latar belakang yang cukup beragam, mulai dari penyanyi solo hingga aktor yang juga aktif di dunia musik.
Ketiganya bertemu media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (2/10/2026). Dalam kesempatan itu, mereka berbagi cerita soal bagaimana proses pembuatan lagu ‘Aura’ bisa berjalan mulus tanpa hambatan berarti.
Bagi Afgan, kunci utama sebuah kolaborasi adalah rasa nyambung dengan rekan kerja sejak awal. Ia tidak mau memaksakan diri bekerja sama dengan siapa pun kalau kimia di antara mereka belum terasa. “Karena nyambung sih sama mereka. Biasanya aku kalau kolaborasi harus nyambung dulu sama kolaboratornya, jadi semuanya terasa effortless, jangan dipaksain. Karena semakin effortless, karyanya tuh semakin organik gitu,” kata Afgan.
Effortless di sini bisa diartikan sebagai proses yang mengalir sendiri tanpa terasa dipaksa atau dibuat-buat. Ketika proses kreatif terasa natural, hasilnya pun cenderung lebih jujur dan tulus sebagai karya.
Afgan juga menekankan bahwa studio rekaman menjadi ruang bermain bagi mereka bertiga, bukan tempat yang penuh tekanan. “Kita benar-benar nyambung banget karena satu visi. Kita di sini suka bermain dalam musik. We love being in the studio, itu kayak playground kita,” ujarnya.
Maxime Bouttier menambahkan bahwa suasana yang bebas dan tidak kaku itu membuat masing-masing bisa tampil sebagai diri sendiri. Menurutnya, itulah yang kemudian ikut terbawa dan terasa dalam lagu ‘Aura’. “And we can be ourselves. Itu paling genuine self-nya kita kayaknya kalau kita di studio. Jadi mungkin itu yang ter-convey kalau kita ketemu bertiga,” tutur Maxime.
Sudut pandang berbeda datang dari Winky Wiryawan. Ia mengaitkan kemampuan membaca orang dan mengelola ego dengan pengalaman mereka bertiga di dunia akting. Dalam sebuah produksi film atau serial yang melibatkan banyak pemain — dikenal dengan istilah ensemble cast — seseorang dituntut peka terhadap dinamika tim dan tahu kapan harus mengalah.
“Karena kalau di akting itu kan di satu ensemble cast kita biasanya tahu bahwa ini akan works apa enggak sama lawan main kita. Kalau gua pribadi, gua bisa ngebaca orang biasanya,” kata Winky.
Winky bahkan bercerita pengalaman pahit dari kolaborasi lain yang hingga kini belum selesai karena persoalan ego. “Karena kalau ketemu keras sama keras, clash, gak akan jadi. Ada satu lagu gua sama musisi lain udah 8 bulan sampai sekarang gak jadi-jadi, karena gua udah turunin ego 10%, dia masih tetap gitu. Nah, ini gak terjadi sama sekali sama kita bertiga,” ungkap Winky.
Cerita di balik lagu ‘Aura’ ini menunjukkan bahwa hasil akhir sebuah karya musik tidak hanya ditentukan oleh bakat, tapi juga oleh kemampuan setiap pihak untuk mendengarkan dan saling memberi ruang. Bagi penggemar Afgan, Maxime, maupun Winky, kolaborasi ini tentu menjadi sajian yang menarik untuk dinikmati.
Sumber: Liputan6

