Harga emas naik jelang pengumuman kebijakan The Fed

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Harga emas naik 0,9% menjadi US$ 4.051,78 per ons pada Selasa 27 Oktober 2026, didorong oleh turunnya harga minyak.
  • Pelaku pasar menunggu keputusan The Fed tentang suku bunga AS karena suku bunga yang lebih tinggi membuat emas kurang menarik.
  • Analis memprediksi 83% kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada Desember, namun tetap optimis emas akan pulih tahun 2027.

Harga emas menguat sekitar 1% pada perdagangan hari Selasa 27 Oktober 2026. Berdasarkan data pasar spot, emas naik 0,9% mencapai US$ 4.051,78 per ons setelah sebelumnya turun sampai US$ 3.987,14. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember meningkat 0,69% ke level US$ 4.066,40 per ons. Kenaikan ini terjadi di tengah ekspektasi investor untuk melihat keputusan kebijakan The Federal Reserve (bank sentral AS) dalam waktu dekat.

Salah satu faktor pendorong naiknya harga emas adalah turunnya harga minyak mentah. Minyak turun lebih dari 1% pada hari yang sama seiring perhatian pasar beralih ke pembicaraan damai di Timur Tengah. Menurut Peter Grant, Vice President and Senior Metals Strategist Zaner Metals, “Harga minyak yang lebih rendah kemungkinan akan memberikan dorongan bagi emas karena meredakan kekhawatiran inflasi dan, bisa dibilang, sedikit melunakkan sikap agresif (hawkish) Federal Reserve.” Dia menambahkan bahwa “saat ini pasar hanya bereaksi terhadap berita utama dari Timur Tengah dan negosiasi yang sedang berlangsung.”

Namun demikian, tidak semua analis melihat tren positif untuk jangka panjang. Jim Wyckoff, analis American Gold Exchange, memperingatkan bahwa jika harga minyak terus naik, hal itu akan memicu inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga. “Kondisi ini bersifat negatif (bearish) bagi emas,” ujarnya. Suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya peluang memegang emas meningkat, karena emas tidak menghasilkan imbal hasil seperti obligasi atau produk investasi lainnya.

Para pelaku pasar saat ini fokus pada rapat The Federal Reserve yang akan datang. Meskipun The Fed telah memberi sinyal tidak akan menaikkan suku bunga minggu ini, para investor tetap khawatir kenaikan akan datang di masa depan. Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, ada peluang 83% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Investor juga menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang akan dirilis Kamis, karena data ini adalah tolok ukur utama yang digunakan The Fed untuk mengevaluasi inflasi dan menargetkan angka 2%.

Survei Reuters menunjukkan bahwa para analis telah menurunkan prakiraan harga emas untuk 2026 selama dua kuartal berturut-turut. Penurunan ekspektasi ini dipicu oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, kuatnya nilai tukar dolar, dan harapan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Namun demikian, para analis masih memprediksi pemulihan harga emas akan terjadi pada tahun 2027.

Di antara logam mulia lainnya, perak naik 0,8% menjadi US$ 54,37 per ons, mencapai level tertinggi setelah sempat menyentuh harga terendahnya dalam hampir setahun. Platinum naik tipis 0,3% ke US$ 1.531,95 setelah jatuh ke level terendah sejak November 2025, sementara paladium turun 1,4% menjadi US$ 1.035,00 per ons setelah mencapai harga terendah sejak Juni 2025.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top