Harga Bahan Bakar Pesawat Sentuh Rekor, Tiket Mahal Terancam

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Harga avtur menyentuh US$ 206 per barel, tertinggi sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari, naik hampir 96% dari harga normal.
  • Maskapai besar dunia terpaksa memangkas rute penerbangan dan proyeksi laba karena beban biaya bahan bakar yang membengkak.
  • Tarif tiket pesawat sudah naik 20-30% tapi mulai menggerus daya beli konsumen, terutama segmen menengah atas yang mulai pangkas anggaran liburan.

Harga bahan bakar pesawat atau avtur tengah mengalami lonjakan drastis yang mengkhawatirkan industri penerbangan global. Berdasarkan data Argus US Jet Fuel Index, harga avtur kini mencapai US$ 4,90 per galon atau setara US$ 206 per barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak konflik di Iran meletus pada akhir Februari lalu, dan kenaikan harga sejak perang dimulai sudah mencapai 96%, hampir dua kali lipat dari harga normal sebelumnya.

Para ahli industri penerbangan memperkirakan lonjakan harga ini masih akan terus berlanjut hingga tahun depan. Situasi ini langsung berdampak pada kesehatan finansial maskapai penerbangan besar dunia, yang secara bersamaan terpaksa memangkas proyeksi laba tahunan mereka akibat membengkaknya biaya operasional.

Menurut John Gradek, pakar manajemen risiko penerbangan dari McGill University, ketika harga avtur menembus angka US$ 200 per barel, kenaikan tarif tiket pesawat sekalipun tidak lagi mampu menutupi lonjakan biaya operasional maskapai. “Para petinggi maskapai terpaksa memangkas sejumlah rute penerbangan demi menjaga margin keuntungan,” ujarnya dikutip Forbes. Bagi maskapai, kondisi ini bukan sekadar guncangan psikologis melainkan ancaman nyata terhadap kelangsungan bisnis mereka.

Gradek memprediksi harga avtur akan terus menanjak hingga mencapai US$ 225 per barel pada akhir Desember tahun ini. Prediksi yang lebih ekstrem datang dari Tan Sri Tony Fernandes, pendiri dan penasihat AirAsia Group, yang memperkirakan harga avtur bisa mencapai US$ 250 per barel jika situasi terus memburuk. Henry Harteveldt, presiden firma riset penerbangan Atmosphere Research Group, menambahkan bahwa risiko kenaikan harga ke level tersebut terbuka lebar apabila konflik Iran tidak kunjung usai dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz belum kembali lancar.

Meski tarif tiket pesawat saat ini sudah lebih mahal 20-30% dibandingkan tahun lalu, daya beli pasar masih terlihat bertahan terutama di segmen penumpang kelas atas. Namun, tanda-tanda kekhawatiran mulai nampak pada kelompok konsumen kelas menengah atas. Liam Dorsey, analis Third Bridge, menjelaskan bahwa kuartal keempat tahun ini akan menjadi periode yang sangat berat bagi operasional maskapai karena harga avtur masih tinggi dan jumlah penerbangan berkurang, meski pemasukan dari penumpang relatif stabil.

Data riset menunjukkan celah keretakan pada daya beli masyarakat mulai terlihat nyata. Bahkan kelompok masyarakat berpenghasilan US$ 100.000 hingga US$ 150.000 per tahun mulai mengurangi anggaran liburan mereka. Gradek menekankan bahwa lonjakan biaya hidup membuat publik semakin sensitif terhadap harga tiket yang terus naik. “Masyarakat kini berpikir dua kali sebelum membeli tiket yang harganya terus melonjak. Kondisi seperti ini jelas tidak bisa bertahan selamanya,” pungkasnya. Situasi ini menciptakan dilema bagi maskapai yang harus menyeimbangkan antara menutup biaya operasional dan tetap menarik konsumen di tengah daya beli yang mulai menurun.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top