Foto: Liputan6
- Harga bahan bakar minyak yang tinggi memicu inflasi dan kenaikan harga di berbagai sektor ekonomi Amerika Serikat.
- Meskipun cemas, masyarakat tetap melakukan pembelian karena keamanan kerja yang masih baik dan tingkat pengangguran rendah.
- Penjualan eceran tumbuh 0,8% bulan lalu, menunjukkan konsumsi publik masih menjadi mesin penggerak ekonomi AS.
Ekonomi Amerika Serikat menghadapi situasi paradoks yang menarik: sementara biaya hidup melonjak drastis akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), masyarakat justru terus berbelanja dan membuat roda perekonomian tetap berggerak. Fenomena ini menunjukkan ketegangan antara kekhawatiran dan perilaku konsumen yang masih solid, setidaknya untuk saat ini.
Inflasi di negara adidaya tersebut mengalami akselerasi bulan lalu dengan penyebab utama naiknya harga minyak dan bensin. Dampaknya merambah ke seluruh sektor ekonomi, mulai dari jasa pengiriman, pergudangan, hingga langsung memukul mayoritas masyarakat di tingkat konsumsi. Data dari Los Angeles Times menunjukkan harga bahan pangan di tingkat grosir juga melonjak naik, dan diproyeksikan akan terus membuat harga barang pokok di pasar semakin mahal dalam beberapa bulan ke depan.
Data Indeks Harga Produsen (PPI) yang mengukur biaya barang sebelum sampai ke tangan konsumen menunjukkan lonjakan sebesar 6,3% pada September dibandingkan tahun lalu—kenaikan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir. Secara bulanan, harga naik 1,3% dari Agustus ke September, dipicu kenaikan bensin 20%. Dampak transportasi terasa sangat nyata: harga solar rata-rata secara nasional mencapai 6,32 dolar per galon, naik drastis dari 3,66 dolar tahun lalu.
Kenaikan biaya transportasi memiliki efek domino di seluruh ekonomi. Truk jarak jauh dan kereta barang yang bergantung pada bahan bakar solar menjadi lebih mahal operasionalnya. Ini mendorong kenaikan harga pangan sebesar 1,2% dari Agustus ke September, rekor bulanan tertinggi sejak Februari. Kepala Ekonom High Frequency Economics, Carl Weinberg, menjelaskan: “Lonjakan biaya transportasi berdampak pada semua barang di dalam perekonomian. Bahan baku pabrik diangkut ke lokasi produksi, dan barang di setiap tahap produksi dipindahkan dari produsen ke grosir hingga ke pengecer menggunakan truk atau kereta. Inilah cara kenaikan harga energi ‘merembet’ ke harga barang-barang pokok.”
Meski tekanan harga terus meningkat, data konsumsi menunjukkan pola mengejutkan: penjualan eceran tumbuh solid sebesar 0,8% dari Agustus, melebihi perkiraan ekonom. Pertumbuhan ini didorong lonjakan pengeluaran di SPBU sebesar 6,4%, namun masyarakat juga tetap membelanjakan uang di restoran dan bar dengan peningkatan 1,1%. Ketika pengeluaran bensin dikecualikan, penjualan eceran hanya naik tipis 0,2%, menunjukkan sebagian besar pertumbuhan memang mencerminkan kenaikan harga barang itu sendiri.
Fenomena ini tercermin dalam pernyataan Jim Baird, Chief Investment Officer di Plante Moran Financial Advisors: “Konsumen mungkin menahan kemarahan mereka dan tetap melangkah di tengah tingginya harga bensin. Mereka tidak senang, tapi mereka tetap saja belanja.”
Alasan mengapa konsumsi tetap bertahan adalah tingkat keamanan kerja yang masih tergolong tinggi. Meskipun ada gelombang PHK di beberapa tempat, angka pengangguran tetap rendah dan pembukaan lapangan kerja baru, meski lambat, tetap berlanjut. Ini membuat masyarakat merasa cukup aman untuk terus mengeluarkan uang. Survei memang menunjukkan banyak warga Amerika pesimis tentang prospek ekonomi ke depan, namun kepastian pekerjaan saat ini menjadi pemicu mereka tetap berbelanja. Para ekonom percaya selama angka pengangguran tetap rendah dan warga Amerika terus bekerja, tingkat konsumsi diperkirakan akan tetap bertahan dalam jangka pendek.
Sumber: Liputan6

