Foto: Liputan6
- Bank Indonesia akan mengumumkan keputusan BI Rate hari ini yang diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan rupiah.
- Analis memprediksi rupiah akan bergerak dalam kisaran 17.950–18.100 per dolar AS tergantung keputusan suku bunga.
- Faktor global seperti kebijakan AS terhadap Rusia, geopolitik Timur Tengah, dan harga minyak juga turut mempengaruhi nilai rupiah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika akan menjadi sorotan pasar hari ini seiring pengumuman hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mengenai suku bunga acuan atau BI Rate yang dijadwalkan siang hari ini, Rabu 21 Oktober 2026. Saat ini, rupiah dibuka mendatar di posisi 17.992 per dolar AS, sama seperti penutupan hari sebelumnya.
Para analis memprediksi rupiah akan melemah hari ini berkat antisipasi pasar terhadap hasil keputusan BI. Menurut Rully Nova, analis Bank Woori Saudara, persepsi pelaku pasar terbagi dua—beberapa mengharapkan suku bunga tetap tidak berubah, sementara yang lain menduga akan naik sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6%. Rully sendiri yakin Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga di level 5,75% untuk menjaga daya beli masyarakat. “Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” ujarnya.
Berdasarkan berbagai faktor yang mempengaruhi pasar, kurs rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran 17.950–18.100 per dolar AS. Selain keputusan BI, pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika harga minyak global. Pada Selasa, harga minyak mentah Brent turun sekitar 3% menjadi sekitar 106 dolar per barel setelah sebelumnya sempat mendekati 112 dolar per barel. Meski mengalami penurunan, harga Brent tetap 6,8% lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan hampir 75% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Harga minyak yang masih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi global dan yield obligasi dolar AS, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan penting bagi investor. Tingginya harga energi ini berkaitan dengan stabilitas geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim Assuabi, direktur PT Traze Andalan Futures, menyoroti bahwa konflik antara Ansarullah Yaman dan Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. “Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas USD 100 per barel,” katanya.
Di sisi lain, kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia juga berperan dalam pergerakan rupiah. Presiden Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang mencabut sejumlah sanksi dan tarif AS terkait Rusia, meski dengan beberapa pengecualian berdasarkan alasan kepentingan nasional. Langkah ini berpengaruh pada sentimen pasar valuta asing secara luas.
Uncertainty terbesar bagi investor saat ini adalah arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS). Pernyataan beberapa pejabat The Fed mengindikasikan keterbukaan terhadap kemungkinan pengetatan lebih lanjut, meski belum memberikan sinyal pasti tentang kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober mendatang. Ketidakpastian ini menjadi perhatian karena dapat langsung memengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah.
Sumber: Liputan6

