Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Waspadai Kekuatan Dolar AS

Foto: Liputan6

Ringkasan 30 Detik
  • Bank Indonesia mewaspadai tekanan rupiah akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil aset Amerika Serikat.
  • Harga minyak dunia melonjak ke US$125,53 per barel pada 24 September 2026, memperparah risiko inflasi dan neraca keuangan Indonesia.
  • BI memperluas kerja sama transaksi mata uang lokal dengan negara mitra untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan. Bank Indonesia (BI) menyatakan kewaspadaannya terhadap sejumlah faktor global yang membuat mata uang Indonesia ini sulit menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Ada tiga hal utama yang membuat rupiah tertekan. Pertama, dolar AS yang semakin kuat di pasar global. Kedua, imbal hasil aset-aset Amerika Serikat yang naik — artinya investor mendapat keuntungan lebih besar kalau menaruh uang di sana. Ketiga, arus modal yang berpindah dari negara-negara berkembang seperti Indonesia ke negara-negara maju.

Gubernur BI Destry Damayanti menyebut fenomena ini dengan istilah “higher for longer”, yakni kondisi di mana suku bunga tinggi di Amerika bertahan lebih lama dari perkiraan. Kondisi ini membuat investor global lebih memilih menaruh dananya di aset-aset Amerika ketimbang di negara berkembang, sehingga aliran modal keluar dari Indonesia pun meningkat dan menekan nilai rupiah.

Tekanan tidak hanya datang dari sisi keuangan. Harga minyak mentah dunia juga ikut melonjak tajam, menyentuh angka US$125,53 per barel pada 24 September 2026. Kenaikan harga minyak ini berbahaya bagi Indonesia karena negara kita masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya. Semakin mahal harga minyak, semakin besar pengeluaran devisa Indonesia untuk membayar impor tersebut, yang pada akhirnya menekan neraca eksternal — yaitu keseimbangan antara uang yang masuk dan keluar dari Indonesia.

Selain itu, harga minyak yang tinggi biasanya berujung pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari alias inflasi. Ini tentu berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

Untuk menghadapi tekanan ini, BI tidak tinggal diam. Salah satu langkah yang diambil adalah memperluas kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal antar negara, atau yang dikenal dengan istilah Local Currency Transaction (LCT). Dengan skema ini, Indonesia dan negara-negara mitra bisa bertransaksi langsung menggunakan mata uang masing-masing — misalnya rupiah dengan yuan China atau yen Jepang — tanpa harus terlebih dahulu menukarnya ke dolar AS.

Langkah ini penting karena bisa mengurangi kebutuhan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional Indonesia. Semakin sedikit permintaan dolar untuk kebutuhan transaksi, semakin berkurang pula tekanan terhadap rupiah.

BI juga berupaya meningkatkan ketersediaan atau likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen di pasar keuangan Indonesia. Dengan begitu, pelaku usaha yang berbisnis dengan China atau Jepang punya lebih banyak pilihan selain menggunakan dolar AS.

Kombinasi tekanan dari pasar global ini menjadi tantangan nyata bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Langkah-langkah yang diambil BI mencerminkan upaya menjaga rupiah tetap stabil di tengah gejolak keuangan dunia yang belum mereda.

Sumber: Liputan6

Scroll to Top