Foto: Liputan6
- Presiden Iran dan Rusia mengkritik sanksi ekonomi Barat dalam pertemuan BRICS di New Delhi, 11 September 2026.
- Iran mendesak negara-negara BRICS memperluas penggunaan mata uang nasional agar tidak bergantung pada instrumen keuangan Barat.
- Konflik yang melibatkan Iran disebut turut mengguncang pasar energi global, mendorong harga solar di AS mencapai US$6 per galon.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara bersamaan mengkritik sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat terhadap mereka. Keduanya menyampaikan hal ini dalam pertemuan BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, pada Jumat, 11 September 2026.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menyerukan agar blok BRICS menjadi benteng perlindungan bagi perdagangan antarnegara anggotanya. “BRICS harus menciptakan lingkungan di mana tidak ada negara yang dapat menganggu perdagangan sah negara lain melalui monopoli instrument keuangan atau teknologi,” ujar Pezeshkian di New Delhi.
Ia juga mendorong negara-negara anggota BRICS untuk lebih banyak menggunakan mata uang masing-masing saat bertransaksi satu sama lain, bukan bergantung pada mata uang dominan seperti dolar AS. Ini adalah langkah yang kerap didorong oleh negara-negara yang merasa dirugikan oleh sistem keuangan global yang dikuasai Barat.
Pezeshkian turut menyinggung kondisi Iran yang menurutnya kini menghadapi tekanan jauh lebih berat dari sekadar sanksi ekonomi. Ia menyebut Iran sudah berhadapan dengan ancaman militer dari Amerika Serikat dan Israel, dan dampaknya tidak hanya dirasakan dalam negeri, tetapi juga mengguncang stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Konflik yang melanda Iran turut berdampak pada pasar energi dunia. Harga solar di Amerika Serikat dilaporkan menembus angka US$6 per galon pada hari yang sama — sebuah rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya — seiring dengan ketidakstabilan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik ini.
Ditulis ulang dari: Liputan6

